Aku tak pernah memiliki rumah ternyaman dalam menerima cintaku. Kerapkali masuk pada ruang cinta yang salah. Ruang yang tak mampu menampung kasih sayangku yang ugal-ugalan dalam merawat hatinya, terlalu effort, terlalu totalitas, terlalu peduli hingga ditanggapi dengan kata ‘risih’. Tanggapan yang tak pernah kumengerti ditengah gembiranya lingkar pertemanan mengenalku dalam hidup mereka.
Penolakan datang tak sekali dua kali. Buatku termenung, ‘hukuman seperti apa yang pantas untuk menyayangi dengan penuh kasih? padahal aku hanya sangat mensyukuri kehadirannya di hidupku. Bahwa ia begitu pantas untuk selalu diselimuti kehangatan kasih’.
Entah bagaimana bisa, namun penolakan demi penolakan tak pernah menggetarkan hatiku. Jika bahasa kasihku tak dimengerti, maka biarlah aku yang menyesuaikan… plottwist, ia malah semakin tak menyukainya. Didasari oleh kekhawatiran tak mampu membalas. Aku spontan menjawab “eh lho, kenapa perlu dibalas? gaperlu.. just be yourself, do what u wanna do. Aku disini membersamai prosesmu, dan aku dengan prosesku sendiri. Kita hanya dua manusia yang sedang berproses. Sesederhana itu…”
Barangkali jika kusambar dengan kata ‘tulus’ malah timbulkan kecurigaan tak perlu.
Jarak menegaskan dengan lantang.. Dan aku resmi ditolak lagi. Peluh mataku berjatuhan dengan ribuan tanya. inikah dosaku yang berikutnya?
Memang benar, people come and go. Ketidakcocokan sangat mungkin terjadi. Perubahan manusia mengikuti dinamikanya sendiri. Benar juga, keputusannya bukan kendaliku.
