Lewat Nobar “Pesta Babi”, Forum Temu Kemis Ajak Anak Muda Cirebon Pahami Realitas Papua

CIREBON — 30 Mei 2026
Forum Temu Kemis menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi pada Jumat, 30 Mei 2026, bertempat di Nineties Coffee, Cirebon, mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 20 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, santri, serta dihadiri oleh perwakilan PC IPNU Kabupaten Cirebon.

Sebagai komunitas literasi dan diskusi di Cirebon, Forum Temu Kemis turut ambil bagian dalam pemutaran film Pesta Babi yang secara serentak diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia. Film dokumenter karya Cypri Paju Dale dan Dhandy Laksono ini mengangkat realitas perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari proyek-proyek besar yang mengatasnamakan ketahanan pangan dan transisi energi, di tengah bayang-bayang militerisasi dan sejarah panjang eksploitasi.

Founder Forum Temu Kemis, Sunoto, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pemutaran film, tetapi bagian dari tanggung jawab moral sebagai pendidik dalam membuka ruang kesadaran kritis bagi generasi muda.

“Saya sebagai pendidik memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengedukasi anak muda dan masyarakat luas. Kita perlu memperlihatkan realitas ketimpangan yang terjadi, termasuk kondisi Papua hari ini yang masih jauh dari keadilan. Masyarakat adat di sana harus berhadapan dengan militer hanya untuk mempertahankan tanah leluhur yang mereka tinggali, hutan yang menjadi sumber hidup mereka,” ujar Sunoto.

Ia berharap, melalui film ini, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memiliki kesadaran politik dan sosial yang lebih dalam.

“Harapan saya, film ini bisa menyadarkan generasi muda tentang pentingnya memilih pemimpin yang benar-benar berpihak pada rakyat, lingkungan, dan masyarakat adat. Bukan sekadar yang pandai berpidato atas nama rakyat, tetapi justru mengabaikan bahkan mengorbankan rakyat melalui kebijakan dan proyek yang tidak berpihak pada keadilan,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Acara, Iman Sulaeman, menyampaikan apresiasi kepada para pembuat film serta seluruh pihak yang terlibat dalam terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bang Cypri Paju Dale, Bang Dhandy Laksono, serta tim Watchdoc dan semua pihak yang telah menghadirkan film dokumenter ini. Film ini benar-benar membuka mata kita tentang kondisi saudara-saudara kita di Papua. Ini bukan sekadar tontonan, tapi panggilan untuk lebih peka terhadap ketidakadilan,” ujarnya.

Iman juga menekankan bahwa film ini mampu membangkitkan kesadaran historis dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan.

“Kalau dulu kita dijajah oleh bangsa lain, hari ini kita dijajah bangsa sendiri. Kita dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks—ketidakadilan yang terjadi di dalam negeri sendiri, yang sering kali sulit dilawan. Film ini mengingatkan kita untuk tidak diam,” katanya.

Ia turut menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada Nineties Coffee yang telah memfasilitasi kegiatan ini, kepada Kang Sunoto dan teman-teman Forum Temu Kemis, serta pihak SMK Asyifa Depok yang telah meminjamkan peralatan. Kegiatan ini bisa terlaksana karena kerja sama banyak pihak. Dan yang ingin kami tegaskan, Papua bukan tanah kosong—ada kehidupan, ada masyarakat adat, dan ada hak yang harus dihormati,” tegasnya.

Diskusi berlangsung hangat, penuh empati, dan diikuti dengan antusias oleh peserta. Suasana reflektif terasa sepanjang acara, menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu keadilan sosial dan lingkungan, khususnya yang terjadi di Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top