CIREBON — Bait Media
Forum Temu Kemis, komunitas literasi dan diskusi di Kabupaten Cirebon, kembali menggelar kegiatan “Maca Buku Bareng” pada Kamis (14/5/2026) di Nineties Coffee, Cirebon. Kegiatan yang diikuti lima peserta ini berlangsung hangat dan penuh suasana reflektif, dimulai dengan sesi silent reading, dilanjutkan pemaparan buku yang dibaca masing-masing peserta, kemudian ditutup dengan diskusi bersama.
Founder Forum Temu Kemis, Sunoto, membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah hadir dan terus berupaya menghidupkan ruang literasi di tengah menurunnya budaya membaca di kalangan masyarakat, khususnya anak muda.
“Terima kasih kepada teman-teman yang sudah hadir dan terus berupaya menghidupkan komunitas ini. Kegiatan maca buku bareng ini kami lakukan untuk membiasakan kembali aktivitas membaca di masyarakat dan kalangan anak muda, yang hari ini mulai jarang kita temukan,” ujarnya.
Sunoto juga mengungkapkan rasa syukurnya karena para peserta rela datang dari berbagai daerah demi mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan dalam komunitas tidak diukur dari jarak geografis semata, melainkan dari rasa kepedulian dan kecintaan terhadap ruang belajar bersama.
“Saya berterima kasih meskipun teman-teman hadir dari daerah yang berbeda-beda dan cukup jauh. Karena sebenarnya jauh dan dekat itu bukan soal kilometer, tapi soal rasa. Kalau ada rasa cinta, sejauh apa pun akan terasa dekat. Sebaliknya, kalau tidak ada rasa cinta, sedekat apa pun akan terasa jauh,” kata Sunoto.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara konsisten dan menyebar ke berbagai ruang tongkrongan lainnya agar budaya membaca kembali tumbuh di tengah masyarakat.
Dalam sesi pemaparan buku, peserta membagikan isi dan refleksi dari buku yang mereka baca. Kang Faiq Nizam, Ketua Korps Protokoler Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati, mempresentasikan buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka yang membahas nilai spiritualitas dan pengendalian diri di tengah kehidupan modern.
Selanjutnya, Sunoto membahas novel klasik Animal Farm karya George Orwell, yang dikenal sebagai kritik satir terhadap kekuasaan dan penyimpangan politik. Sementara itu, Baihaqi memaparkan novel Crime and Punishment karya Fyodor Dostoyevsky, yang mengangkat pergulatan moral, rasa bersalah, dan sisi psikologis manusia.
Peserta lainnya, Iman Sulaeman, membagikan refleksi dari buku Ketika Qur’an Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa karya Gus Nadir, sedangkan Sartika membahas novel Pulang karya Leila S. Chudori, yang mengangkat tema sejarah, identitas, dan pengasingan politik.
Diskusi berlangsung santai namun mendalam. Para peserta saling bertukar pandangan mengenai isi buku, pengalaman membaca, hingga relevansi berbagai gagasan tersebut dengan kondisi sosial hari ini.
Menutup kegiatan malam itu, Sunoto berharap apa yang telah dibaca dan didiskusikan bersama dapat menjadi ruang pembelajaran yang bermanfaat bagi semua peserta.
“Mudah-mudahan apa yang sudah kita baca bersama dan diskusikan malam ini bisa membawa manfaat, menambah wawasan, pengetahuan, serta menjadi pembelajaran bersama untuk terus tumbuh dan berpikir kritis,” pungkasnya.
