Forum Temu Kemis Bahas Perempuan, Politik dan Demokrasi

Cirebon, 23 Oktober 2025 — Forum Temu Kemis kembali menggelar diskusi inspiratif bertema “Perempuan, politik dan demokrasi” pada Kamis malam, 23 Oktober 2025, bertempat di Nineties Coffee, Cirebon.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB hingga malam hari ini menghadirkan narasumber Ibu Maryam Hito, S.H.I, anggota Bawaslu Kabupaten Cirebon sekaligus aktivis perempuan di zamannya.

Dalam pemaparannya, Maryam Hito menyoroti bagaimana perempuan masih sering dikonstruksi secara sosial hanya dalam tiga ranah domestik: dapur, kasur, dan sumur. Menurutnya, perempuan kini menghadapi beban ganda (double burden), di mana selain mengurus rumah tangga, mereka juga dituntut aktif di ruang publik — bekerja, berorganisasi, bahkan terlibat dalam politik.

“Banyak perempuan hari ini sudah bisa menembus ruang publik, tetapi beban domestik tetap melekat di pundaknya. Mereka bekerja dua kali lebih keras, namun sering kali hanya mendapat pengakuan setengahnya,” ujar Maryam.

Lebih lanjut, Maryam menyoroti kebijakan 30 persen keterwakilan perempuan di ruang politik yang selama ini dianggap kemajuan, namun menurutnya masih bersifat simbolik dan formalitas semata. Ia menilai, perjuangan perempuan tidak cukup berhenti pada angka keterwakilan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk partisipasi substantif dalam pengambilan kebijakan.

Percikan api bisa membakar ilalang,” ujarnya menegaskan, bahwa perubahan besar berawal dari kesadaran kecil untuk berani berpikir dan bertindak.

Maryam juga membahas beragam aliran feminisme, mulai dari feminisme liberal yang memperjuangkan kesetaraan hak, feminisme radikal yang mengkritik sistem patriarki, hingga feminisme sosial dan kultural yang berupaya menyesuaikan perjuangan perempuan dengan nilai-nilai lokal. Menurutnya, penting bagi masyarakat memahami bahwa feminisme bukan ide tunggal, melainkan spektrum pemikiran yang beragam dan kontekstual.

Selain itu, Maryam menyinggung isu pendidikan dan budaya, yang ia istilahkan sebagai bentuk “penetrasi budaya.” Menurutnya, sistem pendidikan sering kali tanpa sadar mewariskan nilai patriarkal. Ia menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan — tempat menumbuhkan kesadaran kritis dan kemandirian, bukan sekadar pewarisan nilai yang membatasi peran perempuan.

Diskusi malam itu berlangsung hangat dan partisipatif. Sejumlah peserta seperti Sunoto, Iman, Gia, Faiq, Azza, dan Dian turut memberikan pandangan dan tanggapan. Forum diakhiri dengan refleksi bersama bahwa perjuangan perempuan dalam demokrasi masih panjang, dan memerlukan kerja kolaboratif lintas gender serta lintas generasi.

Menutup kegiatan, Sunoto, selaku perwakilan Forum Temu Kemis, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada narasumber yang telah berkenan hadir serta berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pandangan yang mencerahkan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Maryam Hito atas waktu, ilmu, dan insight positif yang dibagikan kepada teman-teman Forum Temu Kemis. Semoga diskusi ini menjadi inspirasi untuk terus menumbuhkan kesadaran kritis dan memperkuat peran perempuan dalam ruang demokrasi,” ujar Sunoto.

Forum Temu Kemis merupakan forum diskusi rutin yang digagas oleh sejumlah aktivis muda Cirebon sebagai ruang tukar gagasan seputar isu sosial, budaya, politik, dan pendidikan. Melalui kegiatan seperti ini, berharap dapat memperluas kesadaran publik tentang pentingnya menghadirkan demokrasi yang lebih setara dan berkeadilan bagi semua.

Editor: Redaksi Bait Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top