Cirebon — Forum Temu Kemis kembali menggelar diskusi literasi rutin dengan membedah novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 5 Februari 2026, bertempat di Nineties Coffee.
Diskusi yang semula dijadwalkan berlangsung lebih awal baru dimulai sekitar pukul 22.00 WIB akibat hujan yang mengguyur wilayah Cirebon sejak sore hari. Meski demikian, cuaca tidak menyurutkan semangat teman-teman Temu Kemis. Satu per satu anggota forum tetap berdatangan, menciptakan suasana diskusi yang hangat dan penuh antusias.
Sebagai pemantik diskusi, Forum Temu Kemis menghadirkan Iman Sulaeman. Dalam pemaparannya, Iman menjelaskan bahwa Laut Bercerita merupakan novel yang mengangkat kisah tentang aktivisme, persahabatan, dan luka sejarah bangsa Indonesia, khususnya peristiwa penghilangan paksa aktivis pada masa Orde Baru.

Menurut Iman, Leila S. Chudori membangun cerita melalui dua sudut pandang utama. Bagian pertama disampaikan melalui suara Biru Laut, seorang mahasiswa aktivis yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap rezim otoriter. Bagian ini menggambarkan dinamika diskusi, idealisme, serta risiko besar yang harus dihadapi para aktivis muda pada masa itu. Novel kemudian beralih ke sudut pandang Asmara Jati, adik Laut, yang merepresentasikan keluarga korban penghilangan paksa—mereka yang ditinggalkan dan dipaksa hidup dalam ketidakpastian.
“Novel ini tidak hanya bicara tentang mereka yang hilang, tetapi juga tentang mereka yang bertahan hidup dengan ingatan dan penantian,” ujar Iman dalam diskusi.
Ia menambahkan, kekuatan Laut Bercerita terletak pada cara Leila S. Chudori menyampaikan tragedi politik melalui bahasa yang tenang, humanis, dan tidak menggurui. Kekerasan negara, kehilangan, serta trauma disampaikan lewat detail-detail sederhana kehidupan sehari-hari, sehingga pembaca diajak merasakan luka secara perlahan namun mendalam.
Diskusi kemudian berkembang pada isu ingatan kolektif, keberanian melawan ketidakadilan, serta pentingnya sastra sebagai medium untuk menjaga sejarah agar tidak dilupakan. Para peserta aktif menyampaikan pandangan, mulai dari relevansi novel dengan kondisi demokrasi hari ini hingga peran generasi muda dalam merawat kesadaran kritis.
Kegiatan diskusi ditutup menjelang tengah malam dengan obrolan santai antar peserta. Forum Temu Kemis berharap, kegiatan literasi semacam ini dapat terus menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan anak muda.
Redaksi: Bait Media
