Oleh: Sunoto (Founding Partner Forum Temu Kemis)
Banyak kawan-kawan di media sosial yang memposting statment Buya Yahya pada saat menghadiri acara buka puasa bersama di Istana negara bersama Presiden Prabowo, Kyai dan juga para Ulama, Kamis (5/3/2026). Buya memberikan pesan bahwa kita sebagai warga negara hendaknya mendoakan para pemimpin-pemimpin kita, karena hal tsb sering terlewatkan.
Statment tersebut amat sangat baik, karena jangan sampai sikap kritis kita kepada para pejabat menjadikan kita lupa mendoakan. Namun sayangnya, oleh sebagian kalangan statment tersebut dijadikan sebagai tameng untuk pembenaran setiap program-program dan kebijakan Prabowo Subianto dan seolah-olah kalangan yg kritis dengan berbagai macam kebijakan tidak mengikuti Buya Yahya.
Pemahaman itu yang saya sebut sebagai kegagalan memahami konteks. Mendoakan para pemimpin adalah tugas kita, jangankan pemimpin, bahkan mendoakan orang-orang yang berlaku dzolim dengan kitapun diajarkan oleh Nabi. Kita diperintahkan untuk mendoakan mereka mendapatkan hidayah dan doa-doa baik lainnya. Oleh karena itu, mendoakan Presiden Prabowo bukan berarti kita membenarkan program MBG yang salah urus, menguras anggaran negara dari banyak sektor dengan mekanisme yang justru menjdi ladang korupsi di kalangan elite. Mendoakan bukan berarti kita abai dengan kebijakan Sawit yang mengancam hutan-hutan kita yang angka deforestasinya sampai 97% (Datai hasil penelitian Auriga Nusantara), mendoakan bukan berarti membenarkan kebijakan yang mengangkat 3 posisi di SPPG sebagai P3K sedangkan ada jutaan guru honorer yang masih memiliki gaji 300 ribu setiap bulan. Mendoakan bukan berarti kita membenarkan tindakan-tindakan aparat kepolisian yang membunuh, memperkosa, mengintimidasi dan kasus lain yang sampai dengan hari ini terlibat banyak kasus tanpa sanksi dan evaluasi yang adil, mendoakan bukan berarti membenarkan penangkapan 6.791 warga sipil oleh aparat karena kritis (Data Komisi Pencari Fakta). Mendoakan bukan berarti membenarkan tumbuh kembangnya tindakan KKN di Indonesia. Mendoakan bukan berarti kita setuju dengan penugasan militer dalam posisi-posisi sipil yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Mendoakan bukan berarti kita setuju dengan kebijakan bergabungnya Indonesia di Board Of Peace yang dibentuk oleh Trump. Dan masih banyak hal lain yang perlu kita kritisi.
Jadi menurut saya, ayolah lebih cerdas dalam memahami setiap konteks. Kita semua memiliki peran masing-masing. Jangan anggap yang berbeda sebagai musuh, jangan anggap oposisi kritis sebagai lawan yang harus dihabisi. Kita semua ingin Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Maka dari itu menerima akan masukan pikiran alternatif itu penting.
