Forum Temu Kemis Gelar Diskusi Literasi, Bedah Karya Pramoedya Ananta Toer

Forum Temu Kemis kembali menggelar diskusi literasi rutinnya pada Kamis, 29 Januari 2026, pukul 20.00–23.00 WIB di Nineties Coffee. Kegiatan ini dihadiri oleh 15 anak muda dari berbagai latar belakang yang berkumpul dalam suasana hangat untuk membedah buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer.

Buku yang mengangkat kisah kelam kekerasan terhadap perempuan Indonesia pada masa pendudukan Jepang ini dipantik oleh Azzumardi Azra, mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dengan M. Labieb Azra bertindak sebagai moderator. Sejak awal pemaparan, diskusi sudah terasa hidup dan penuh keterlibatan peserta.

Memasuki sesi diskusi, M. Faiq Nizam menjadi penanya pertama dengan pandangan bahwa tindakan keji yang dilakukan tentara Jepang terhadap perempuan Indonesia pada masa itu bukan hal yang mustahil terulang oleh pihak mana pun ketika kekuasaan tidak dibatasi nilai kemanusiaan. Pernyataan itu disambut suasana hening.

Itih Sugiarti tampak haru saat menyampaikan pendapatnya. Sebagai perempuan, ia mengaku merasakan betul betapa menyakitkan gambaran kekerasan tersebut. Baginya, kisah dalam buku itu menunjukkan betapa tidak amannya posisi perempuan ketika kekerasan dan perang menguasai ruang hidup.

Sunoto kemudian menimpali dengan pandangan bahwa rusaknya sebuah bangsa sering kali bermula dari rusaknya anak-anak dan perempuan. Ia menekankan bahwa pendudukan Jepang tidak hanya bermotif menguasai wilayah, tetapi juga merusak generasi melalui tindakan kekerasan seksual massal terhadap perempuan Indonesia.

Iman Sulaeman memperluas pembahasan dengan mengaitkan isu tersebut dengan kondisi hari ini. Menurutnya, ancaman terhadap anak dan perempuan masih ada dalam bentuk berbeda. Ia mencontohkan fenomena pergaulan remaja yang kurang pengawasan, sehingga menurutnya pendidikan dalam keluarga—yang sering kali berawal dari peran ibu—menjadi sangat penting.

Adam menambahkan bahwa sejarah seharusnya menjadi pelajaran agar kekerasan serupa tidak terulang seperti pada era penjajahan Jepang. Diskusi kemudian bergerak ke ranah psikologis ketika Iman menyebut konsep akal, rasa, dan nafsu yang ia dapat dari kajian bersama Pak Fahruddin Faiz di Yogyakarta. Sunoto mengaitkannya dengan teori Sigmund Freud tentang id, ego, dan superego—bahwa manusia memiliki dorongan biologis, tetapi moral dan nilai menjadi pengontrolnya.

Sartika menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dan harus dilindungi, sehingga diperlukan kerja sama semua pihak. Faiq menambahkan, perlindungan juga perlu diberikan kepada laki-laki karena kekerasan seksual tidak hanya menimpa perempuan.

Diskusi berlangsung interaktif, saling menyambung gagasan antara sejarah, moral, keluarga, hingga perlindungan hak asasi manusia.

Di akhir kegiatan, Sunoto selaku salah satu inisiator Forum Temu Kemis menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta. Ia berharap forum ini tidak hanya menjadi kegiatan rutin.

“Kami ingin Temu Kemis menjadi ruang yang membawa keilmuan, pengetahuan, dan wawasan baru bagi semua,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa forum tersebut terbuka bagi siapa pun yang ingin bergabung dalam diskusi literasi berikutnya.

Kontributor: Bait Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top