Oleh: Yasin Iskandar
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan transformasi sosial, makna kesantrian tampak perlu didefinisikan ulang. Kesantrian, yang selama ini identik dengan sarung, kopiah, dan tradisi khas pesantren, kini menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap menjaga adab tanpa kehilangan nalar kritis.
Menurut Yasin Iskandar, jebolan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Cirebon ini, hakikat santri tidak berhenti pada penampilan atau ritual keseharian.
“Santri sejati bukan hanya mereka yang mengenakan sarung dan berjalan menunduk di hadapan guru, tetapi mereka yang menjadikan ilmu sebagai cahaya dalam membaca zaman,” ujarnya dalam tulisannya di Bait Media.
Tradisi sowan, mencium tangan kiai, atau berjalan jongkok di hadapan guru, menurutnya, adalah bagian dari ruh kebudayaan yang tumbuh dari rasa cinta dan penghormatan terhadap ilmu.
“Tradisi itu tidak perlu hilang. Justru di situlah keindahan kultur pesantren. Namun, hormat tidak boleh mematikan nalar,” tulis Yasin.
Ia menegaskan bahwa pesantren harus terus menanamkan kesadaran kritis di tengah perubahan zaman. “Pesantren seharusnya menjadi tempat di mana santri belajar menundukkan diri di hadapan ilmu, tapi juga berani menegakkan pikirannya di hadapan kebenaran,” lanjutnya.
Era digital membawa santri pada situasi baru yang menuntut kecakapan lebih luas: bukan hanya dalam membaca kitab, tetapi juga membaca konteks sosial dan arus informasi global. “Santri harus hadir bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai pembawa pencerahan,” tulisnya.
Pada akhirnya, Yasin menutup refleksinya dengan kalimat yang menggugah:
“Biarlah santri tetap jongkok di hadapan gurunya, asal pikirannya tetap tegak di hadapan kebenaran.”
Pernyataan itu menjadi penanda penting bahwa kesantrian sejati bukan sekadar soal bentuk penghormatan fisik, melainkan kesetiaan terhadap nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, dan keberanian berpikir di tengah zaman yang terus berubah.
—
Redaksi Bait Media
