Oleh: Sunoto
Tadi siang, saat saya baru saja keluar dari kelas dan hendak menaiki sepeda motor bebek tua saya, seorang santri kelas X tiba-tiba menghampiri dengan wajah penasaran.
“Tadz,” katanya, “saya mau tanya. Apa sih maksudnya buku kanan dan buku kiri?”
Saya tersenyum, lalu menjawab perlahan, “Itu istilah yang sering dipakai untuk membedakan corak pemikiran atau ideologi dalam buku. Buku ‘kanan’ biasanya mengarah pada pandangan konservatif, religius, atau nasionalis yang menekankan nilai-nilai tradisi, stabilitas, dan ketertiban. Sementara buku ‘kiri’ mengacu pada pemikiran yang lebih kritis dan progresif, sering berbicara tentang keadilan sosial, kesetaraan, dan perubahan struktur masyarakat.”
Ia mengangguk pelan, tapi wajahnya masih penasaran.
“Terus, kenapa ada yang bilang jangan baca buku kiri, Tad? Atau jangan baca buku kanan?”
Saya tersenyum lagi. “Karena sebagian orang takut pada gagasan. Padahal, buku tidak berbahaya, yang berbahaya itu kalau kita berhenti berpikir. Membaca buku kiri bukan berarti jadi komunis, seperti halnya membaca buku kanan bukan berarti jadi fundamentalis. Semua kembali pada bagaimana kita menimbang isi dan berpikir dengan nalar.”
Santri itu lalu bertanya lagi, kali ini lebih kritis, “Kalau gitu, siapa sih tokoh-tokoh kiri dan kanan itu, Tad?”
Saya menjelaskan perlahan. “Kalau kita bicara kiri, biasanya yang dibicarakan adalah tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Tan Malaka, Soe Hok Gie, atau Pramoedya Ananta Toer, mereka banyak bicara tentang ketimpangan sosial, perjuangan kelas, dan perlawanan terhadap penindasan. Sedangkan yang kanan misalnya tokoh-tokoh yang menekankan nilai agama dan ketertiban sosial seperti Adam Smith dalam ekonomi liberal klasik, atau pemikir konservatif seperti Edmund Burke. Di Indonesia, sebagian pemikir Islam seperti Nurcholish Madjid atau Buya Hamka kadang juga dianggap mewakili sisi ‘kanan’ yang moderat, karena menekankan nilai moral dan keimanan dalam kehidupan publik.”
Ia tampak berpikir keras. “Berarti buku kiri itu dekat dengan sosialisme dan komunisme, ya, Tad?”
Saya mengangguk. “Iya, sebagian memang. Sementara buku kanan biasanya dekat dengan kapitalisme atau liberalisme. Tapi jangan disederhanakan: tidak semua yang kiri itu komunis, dan tidak semua yang kanan itu kapitalis. Dunia ide itu luas tidak sesempit dikotomi yang sering kita dengar.”
Ia menatap saya dengan dahi berkerut. “Kalau begitu, Tad… Indonesia menganut yang mana?”
Pertanyaan itu membuat saya tersenyum lama. “Indonesia itu unik,” jawab saya akhirnya. “Secara ideologi, kita berdiri di tengah. Pancasila bukan kiri, bukan kanan. Ia bukan kapitalis murni, bukan juga sosialis total. Ia menggabungkan nilai-nilai keadilan sosial, kemanusiaan, dan ketuhanan, keseimbangan antara nalar dan nurani. Itulah mengapa Bung Karno dulu menyebut Pancasila sebagai ‘jalan tengah’ yang khas Indonesia.”
Santri itu mengangguk pelan. “Berarti boleh baca semuanya, Tad?”
“Boleh,” jawab saya mantap. “Baca buku kanan, buku kiri, bahkan buku tengah. Yang penting, kamu punya kompas moral dan nalar sehat. Jangan takut pada buku, takutlah kalau kamu berhenti belajar.”
Soalnya tadi saya habis baca novel bagus.” Saya menatapnya penasaran. “Judulnya apa?”
“Laut Bercerita,” jawabnya cepat. Saya tersenyum. “Leila S. Chudori?” “Iya, Tad. Ustadz tahu?” katanya heran.
“Tahu,” jawab saya. “Bagus itu. Lanjutkan bacamu. Laut Bercerita memang tidak bicara langsung tentang ideologi, tapi di situ ada napas perjuangan, kemanusiaan, dan luka sejarah, hal-hal yang juga sering dibahas dalam bacaan kiri.”
Ia tersenyum, lalu pamit dengan sopan. Saya pun menyalakan motor bebek saya dan berlalu dengan perasaan hangat. Dalam hati saya berpikir: di tengah zaman yang penuh label dan prasangka, rasa ingin tahu seorang santri adalah tanda bahwa pendidikan masih hidup.
Pendidikan sejati bukan soal melarang atau membatasi bacaan, tapi membimbing bagaimana membaca dengan bijak. Karena bangsa besar tidak dibangun oleh mereka yang menutup buku, tapi oleh mereka yang berani membuka halaman demi halaman dengan pikiran terbuka dan hati yang berimbang.
Selamat Hari Santri.
—
Redaksi Bait Media
